Tuesday, July 24, 2007


Hapuskan Disparitas Mutu Pendidikan

oleh : Hery Haldun

Beberapa minggu yang lalu (9/7) dalam tajuk utama surat kabar harian nasional (Kompas ) diinformasikan bahwasanya ditingkat pusat (Jakarta), di moneter nasional Indonesia tidak ada satupun karyawan yang bekerja di sana berasal dari lulusan perguruan tinggi di luar pulau jawa. Tidak ada satupun pekerja di lembaga moneter di Jakarta tersebut yang berasal dari perguruan tinggi bukan karena tidak adanya calon yang mendaftar, malah banyak sekali yang mengajukan diri untuk bekerja dilembaga tersebut. Bukan pula karena kurang 'lihai' dalam KKN karena penyeleksiannya katanya dilakukan secara objektif dan transparan. Lalu apa masalahnya? penyebabnya adalah Karena Calon pekerja lulusan dari PT luar pulau jawa ini memang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh lembaga moneter tersebut. Mereka tertolak dikarenakan kalah jauh mutunya dengan para calon lulusan perguruan tinggi di Pulau Jawa ini. Hal ini membuktikan telah terjadi disparitas (kesenjangan) kualitas pendidikan antara Perguruan Tingggi di luar Pulau Jawa dengan yang berasal dari Pulau Jawa.
Terjadinya disparitas mutu pendidikan ini entah disadari atau tidak telah menghambat proses pembangunan daerah luar pulau jawa dan tentunya pula merugikan para alumnus dari Perguruan Tinggi luar pulau Jawa untuk mendapatkan posisi yang strategis di pemerintahan khususnya ditingkat pusat.
Bukankah jangka waktu yang dihabiskan di bangku perguruan tinggi baik di jawa maupun di luar Jawa sama?Bukankah Mata kuliahnya pun sama? bukankah Status dan interaksi belajar pun sama, Mahasiswa untuk peserta pendidikan di PT dan pengajarnya itu adalah dosen?
Sangat luas saya kira apabila dibahas semua pertanyaan diatas, namun saya kira permasalahan utamanya berakar dari dua hal saja yaitu kualitas dosen yang kurang unggul, dan etos belajar berprestasi mahasiswa di luar Jawa yang kurang.
Berangkat dari hal tersebut, setiadaknya ada dua solusi ayang bisa dilakukan untuk menanggulangi disparitas mutu penidikan di perguruan tinggi di luar pulau jawa. Pertama, Dosen yang berkualitas yang ada di pulau jawa di tugaskan untuk mengajar perguruan tinggi di luar pulau jawa dalam beberapa semester saja tidak selamanya. Jadi dosen-dosen tersebut dikontrak oleh pemerintah untuk mengajar di luar pulau jawa dan berada dalam tugas dinas, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi keogahan dosen untuk tidak mengajar di luarpulau jawa.
Kedua, terjadinya disparitas mutu pendidikan juga karena mental berprestasi mahasiswa di luar pulau jawa yang kurang tinggi. Maka untuk hal tersebut, mahasiswa dari pulau jawa dalam satu semester diwajibkan untuk melakukan kegiatan dikampus luar pulau jawa. Hal ini bisa membuat akulturasi budaya antara mahasiswa jawa denga luar pulau jawa berimbas positif, karena bisa membuat mereka (mahasiswa luar jawa) untuk tertantang berprestasi setelah bersentuhan dengan mahasiswa jawa yang berprestasi.
Kesetaraan mutu pendidikan di wilayah luar pulau Jawa di Indonesia merupakan suatu kewajiban yang harus terus diperjuangkan. Waktu yang dihabiskan untuk mengenyam pendidikan di bangku kuliah haruslah tidak berakhir pahit hanya karena berbeda tempat sehingga akses menuju posisi yang lebih tinggi terhambat. Bukankah semua peserta didik di Indonesia pernah di samakan kualitasnya dalam ujian akhir di tingkat SMA maupun Ujian masuk ke perguruan tingggi negeri ketika SPMB?Karena itu, Hilangkan Disparitas mutu pendidikan sekarang!

ledeng, 25 juli 2007 selesai jam 1:44
[ Sambil mikirin Madrasah, UAS, BEM dan MAKKAH]